Sabtu, 15 Juli 2017

Perlawanan Sosial di Era Kolonial Belanda Untuk Mencapai Kemerdekaan

Era Kolonial Belanda terbagi menjadi dua dimana pada periode pertama kita dijajah VOC (1602-1799). VOC adalah sebuah asosiasi pedagang-pedangang Belanda untuk menaungi dan mempersatukan mereka dari para pesaing pedagang-pedagang asing lainnya. Berpusat di Batavia, VOC berhak mengangkat gubernur di wilayah jajahannya dan bahkan mencetak mata uang. 

Setelah merebut Kerajaan Mataram dan Banten, VOC mulai memperlihatkan kesewenang-wenangaannya sebagai pendatang yang tidak mau menghormati warga setempat. Perlawanan pun terjadi dimana-mana. Mulai dari perlawananan aliansi Jawa-China pada Geger Pacinan 1740-1743 dimana warga China dibantai di Batavia. Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten juga dipatahkan lewat politik devide et impera (pecah belah dan jajahlah) yang berhasil. Di Makassar Kerajaan Gowa-Tallo juga berhasil ditaklukkan.

Pada akhir abad ke-18 terjadi Revolusi Perancis yang menyebar pahamnya ke seluruh Eropa termasuk negeri Belanda. Bahkan Napoleon sang Kaisar Revolusioner menduduki Belanda dan mendudukan adiknya Louis Bonaparte sebagai raja disana. VOC pun mengalami kebangkrutan dan kekayaanya diambil alih oleh pemerintah Belanda.

Pmerintah Kolonial Belanda hanya berlangsung selama 11 tahun  setelah pihak Inggris dibawah pimpinan Raffles menduduki pulau Jawa dan menduduki beberapa kota pemerintahan. Inggris sempat menerapakan beberapa perubahan dimana sistem feodal perlahan-lahan dihapuskan yang sempat membingungkan para raja-raja Jawa. Namun sesuai dengan Traktat London 1816, Hindia Belanda dikembalikan ke Belanda lagi. Mulailah kita merasakan pahitnya pendudukan langsung dibawah mahkota Belanda.

Van den Bosch, Gubernur Jenderal Hindia Belanda menerapakan sistem tanam paksa yang sangat membebani kaum rakyat Nusantara. Perlawanan pun terjadi dimana-mana. Perang Diponegoro(1825-1830) dan Perang Paderi (1821-1837) yang terjadi disaat bersamaan benar-benar merepotkan pihak pemerintah Belanda. Perlawanan Petani Banten 1888, Perlawanana Non-Fisik KH.Ahmad Rifai dari Kendal, Jawa Tengah yang pada akhirnya dibuang ke Ambon sampai beliau meninggal disana dan masih banyak lagi perlawanan benar-benar membuat Belanda dibuat kewalahan. Istilahnya 'Mau Untung Malah Buntung'. 

Perlawananan-perlawanan sosial ini baik dari segi agama maupun dari segi sosok pemimpin suatu daerah memang merepotkan, namun ternyata hal ini tidak meruntuhkan keeksistensian pihak Kolonial Belanda. Pada akhirnya terjadi juga protes terjadi didalam negeri sendiri dimana pihak Belanda akhirnya menerapkan sistem politik balas budi atau sering disebut politik Etis. Meski juga banyak desakan agar Indonesia diberi model dominion seperti jajahan Inggris, namun pemerintaha Belanda belum berani bersikap demikian, Belanda hanya membentuk sebuah dewan rakyat Volksraad yang sistemnya masih dikendalikan Belanda. Tetapi pada awal abad ke-20, sebuah era perjuangan baru timbul yang pada akhirnya tahun 1945 kita berhasil meraih kemerdekaan.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Kritik dan Saran ditunggu. Terima kasih

1 komentar: