Selasa, 12 April 2016

Wisata Museum

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Museum Perumusan Naskah Proklamasi merupakan tempat yang bersejarah dan sangat penting bagi bangsa Indonesia Karena memiliki nilai sejarah,  mulai dari tempat ini bangsa Indonesia merumuskan Naskah Proklamasi untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.
Peristiwa Perumusan Naskah Proklamasi terjadi di gedung bekas kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda yang pada waktu itu bernama jalan Meiji Dori No. 1 Jakarta dan kini menjadi Jalan Imam Bonjol No. 1. Peristiwa ini merupakan salah satu rangkaian sejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia karena peristiwa itu tidak dapat di pisahkan dari peristiwa Proklamasi.


B.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah Museum Perumusan Naskah Proklamasi
2.      Apasaja yang terdapat di Museum Perundingan Naskah Proklamasi
3.      Apasaja kelebihan, kekurangan, peluangan dan ancaman bagi Museum tersebut

C.      Tujuan
Tujuan kelompok kami ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi untuk Obsevasi dan bisa memahami sejarah dari perumusan naskah proklamasi




BAB  II
PROFILE MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI
A.    Kepemilikan dan Sejarah Bangunan

Gedung ini di dirikan sekitar tahun 20-an oleh arsitek belanda J.F.L BLANDKENBERG bergaya arsitektur eropa,dengan luas tanah  3.914 m2 dan luas bangunan 1.138,10 m2.Pada tahun 1931,pemiliknya atas nama PT.ASURANSI JIWASRAYA.Ketika pecah perang pasifik,gedung ini dipakai British Consul General sampai jepang menduduki Indonesia.
Pada masa pendudukan jepang,gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda,Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat jepang.Setelah kemerdekaan Indonesia 1 agustus 1945,gedung ini tetap menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda sampai Sekutu mendarat di Indonesia,September 1945.Setelah kekalahan jepang gedung ini menjadi markas Tentara Inggris.
Pemindahan setatus pemilikan gedung ini, terjadi dalam aksi nasionalisasi terhadap milikbangsa asing di Indonesia. Gedung ini di serahkan kepada departemen keungan dan pengelolaannya oleh perusahaan asuransi jiwaseraya
Pada 1961 gedung ini di kontrak oleh kedutaan inggris sampai dengan 1981. Selanjutnya gedung ini di terima oleh departemen Pendidika dan kebudayaan pada tanggal 28 Desember 1981. Pada tahun 1982 gedng ini sempat di gunakan oleh perpustakaan nasional sebagai perkantoran.
Gedung ini menjadi sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia karena pada tanggal 16-1 Agustus 194 terjadi peristiwa sejarah yaitu perumusan naskah proklamasi bangsa indonsesia, oleh karena itu 1984, mentri pendidikan dan kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto, menginstruksikan kepada direktorat permuseuman agar merealisasikan gedung bersejarah ini menjadi museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Berdasarkan surat keputusan mentri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0476/1992 Tanggal 24 November 1992, gedung yang terletak di JL. Imam Bonjol No. 1di tetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi, yaitu sebagai Unit Pelaksana Teknis di bidang Kebudayaan di bawah direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen, Penddikan dan Kebudayaan, ini museum Perumusan Naskah Proklamasi berada di lingkungan Kementrian dan Kebudayaan berdasarkan Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan N0. 47 tanggal 20 Juli 2015.


B. SEJARAH Berdirinya Museum Perumusan Naskah Poklamasi

Sejarah gedung ini menjadi sangat penting sebagai awal sejarah berdirinya Negra Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka berdaulat.Disamping itu,dalam rangka perjuangan memperthankan kemerdekaan Republik Indonesia,bukan hanya di lakukan dengan mengangkat senjata,akan tetapi dilakukan pula dengan perjuangan diplomasi.

Awal perjuangan diplomasi itu terjadi di gedung ini yaitu pada tanggal 17 november 1945 saat itu gedung oni merupakan markas besar tentara inggris.Pertemuan terjadi di ruang yang sekarang disebut ruang perumusa  naskah proklamasi.Pada pertemuan itu,dari pihak Indonesia di pimpin oleh perdana mentri oleh SUTAN SJAHRIL,pihak belanda oleh H.J.VAN MOOK sedangkan pihak sekutu di wakili oleh LETNAN JENDRAL CHRISTISSON sebagai pemerakarsa.Tujuan pertemuan itu di maksutkan untuk mempertemukan pihak Indonesia dan pihak belanda disamping menjelaskan maksud kedatangan tentara sekutu.Akan tetapi,pertemuan itu berkahirtanpa hasil apapun.
Pada tanggal 7 Oktober 1946, atas jasa baik Inggris di gedung ini diadakan perundingan antara pihak Indonesia dan Belanda yang bersekenta di ruang yang sekarang di sebut Ruang Perumusan Naskah Proklamasi. Pemerintah Inggris memutus wakilnya Lord Killearn sebagai penengah, sedangkan utusan pemerintah Indonesia diketuai oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda di ketuai oleh Prof. Schemerhorn dalam pertemuan itu menghasilkan pesetujuan kenjatan senjata, yang isinya sebagai berikut :
1.      Kenjatan senjata diadakan atas dasar kedudukan militer pada waktu itu dan atas dasar kekuata militer Sekutu serta Indonesia
2.      Di bentuk sebuah kombisi bersama genjatan senjata untk masalah-masalah teknis pelaksanaan genjatan senjata. Persetujuan genjatan senjata ini di setujui pada tanggal 14 Oktober 1946
Oleh karena kejadian yang amat penting terjadi di gedung ini adalah peristiwa Perumusan Naskah Poklamasi, maka Museum ini di namakan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

C.Koleksi Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Pembagian ruangan di dasarkan pada peroses terjadinya peristiwa Perumusan Naskah Proklamasi yaitu :
1.      Ruang Penerimaan
Ruangan ini di gunakan Maedah sebagai kantor dan ruang tamu khusus yang di dalamnya terdapat seperangkat kursi tamu yang terdiri dari satu meja, satu sopa dan dua kursi. Terbuat dari besi tipis Chroom Nikel dengan alas duduk yang di lapisi dengan kulit berwarna coklat tua. Meja berbentuk empat persegi panjang dan kursi di letakan dekat jendela. Antara pintu dan ruang penerimaan dengan ruangan perumusan, di letakan lomari buku yang berpintu kaca terbuat dari kayu dengan warna coklat tua. Sedangkan dinding yang di belakang meja tulis, terdapat dua buah lukisan can minyak bergambar pemandangan di sawah yang berlatar belakang gunung, di ruangan ini merupakan tempat peristiwa sejarah yang pertama dalam persiapan perumusan naskah proklamasi. Di ruang ini pada tanggal 16 Agustus 1945 sekitar pukul 22.00 WIB sepulang dari Rengas Dengklok Bung Karno, Bung Hatta dan Mr. Mr. Ahmad Soebarjo di terima oleh Laksamana muda Tadasi Maeda. Di ruangan ini pula, Maeda menerima penjelasan dari para wakil bangsa Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaan sekarang juga. Untuk selanjutnya, Maeda tidak turut campurtangan dan segera mohon diri menuju kamarnya di lantai atas

2.      Ruang Perumusan Naskah Proklamasi
Di ruang ini terdapat sebuah meja berbentuk bundar yang di lengkapi dengan 5 buah kursi tanpa sandaran tangan terbuat dari kayu jati dengan warna coklat tua, di ruang ini terdapat pula sebuah meja panjang yang di lengkapi 12 kursi dengan sandaran tangan, alas duduk dan sandaran di lapisi kulit berwarna coklat tua begitu pula meja dan kursinya berwarna coklat tua. Di sebelah kiri dan sebelah kanan ruangan di tempatkan satu lemari buku yang terbuat dari kayu dan berpintu kaca dengan warna coklat tua di dinding depan ruang dekat pintu antara aruang itu dengan ruangan penandatanganan naskah proklamasi diletakkan sebuah meja dinding yang terbuat dari kayu dengan warna coklat tua diatas kedua lemari buku di letakkan pas bunga besar yang terbuat dari porselen jepang berhiaskan motiv bunga berwarna dibuat awal ke-20 sedangkan diatas meja diniding,diletakkan sebuah vas bunga yang berbentuk lebih kecil.

Diruagan ini,dini hari sekitar pukul 03.00 wib tanggal 1 agustus 1945,BUNG KARNO,BUNG HATTA & MR.SOEBARDJO mengonsep dan merumuskan naskah proklamasi.Konsep naskah proklamasi ini dalam bentuk tulisan tangan BUNG KARNO,sedangkan BUNG HATTA & MR.SOEBARDJO menyumbangkan pikiran secara lisan.

3.RUANG PENGETIKAN
Diruangan ini naskah proklamasidiketik oleh SAYUTI MELIK dan ditemani oleh  B.M.DIAH.
Diruang penandatangan dan pengesahan naskah proklamasi.Konsep naskah proklamasi dibacakan oleh BUNG KARNO dihadapan hadirin.Setelah naskah tersebut di setujui oleh hadirin maka konsep naskah proklamasi itu oleh BUNG KARNO diberikan kepada SAYUTI MELIK untuk diketik diruangan yang sekarang disebut ruang pengetikan.

4.RUANGAN PENANDATANGAN/NASKAH PROKLAMASI
Diruangan ini terdapat 1 buah meja panjang dan 12 kursi dengan sandaran tangan.Di bawah tangga menuju ke lantai atas diletakkan sebuah piano besar yang menjadi tempat penandatangan naskah proklamasi.

Setelah naskah proklmasi diketik segera dibawa kembali ke ruang pengesahan/penandatanganan naskah proklamasi.Setelah naskah proklamasi ditandatangani dibicarakan mengenai tempat pembacaan naskah proklamasi dan atas pertimbangan keamanan maka SOEKARNO mengumumkan bahwa pembacaan naskah proklamasi di adakan di halaman depan rumah kediamannya,dijalan pegangsaan timur no.56 pukul 10.00 wib.Pertemuan sejarah ini di tutup ketika fajar mulai menyingsing 17 agustus 1945.
Yang hadir pada pertemuan bersejarah itu antara lain:
1.Ir.Soekarno
2.Drs.Moh.Hatta
3.Mr.Ahmad Soebardjo
4.Dr.Mohammad Amir
5.Dr.Boentaran Martoatmodjo
6.Mr. I Goesti Ketut Poedja
7.Mr. A Abbas
8.Mr. Iwa Kusumasumantri
9.Mr. Johanes Latoeharhary
10. Ki Bagoes Hadji Hadikoesoemo
11. Mr.Teukoe Moehammad Hasan
12. Ki Hadjar Dewantara
       (Mas Suwardi Suryaningrat)
13.R. Oto Iskandar di Nata
14.Dr.K.R.T. Radjiman Wediodiningrat
15.Mr.Soetardjo Kartohadikusumo
16.Prof.Dr.Mr.R.Soepomo
17.R. Soekarjo Wirjopranoto
18.Dr.G.S.S.J. Ratulangi
19. Burhanuddin Moehammad Diah
20. Sukarni
21. Chaerul Saleh
22. Sayuti Melik
23. Anang Abdoel Hamidhan
24. Andi Pangeran
25. Andi Sultan Daeng Radja
26. Samuan Bakry
27. Soediro (Mbah)
28. Abikoesno Tjokrosoejoso
29. Dr. Samsi Sastrowidagdo

Di lantai dua terdapat beberapa beberapa ruangan di tiapa ruangan yang terdapat beberapa koleksi peninggalan dari tokoh-tokoh yang bersangkutan pada Perundingan naskah proklamasi ataupun peninggalan dari para pahlawan. Di lantai atas juga terdapat beberapa foto dan penjelasan tentang perjuagan para tokoh yang berjuang melawan penjajah,



BAB III
ANALISIS PERKEMBANGAN MUSEUM

A.      Kekuatan Museum
-          Museum tersebut masih menggunakan bangunan asli
-          Lokasi terdapat di tengah perkotaan
-          Terdapatnya taman bermain bagi anak-anak
-          Terdapat perpustakaan dan Teater.
B.      Kelemahan Museum
-          Tidak adanya penunjuk jalan ke Museum
-          Kurangnya pemandu Museumnya
C.      Peluang Museum kedepannya
-          Kunjungan dari pelajar dan mahasiswa bisa di tingkatkan karena museum buka pada hari sabtu dan minggu
D.     Ancaman Museum
-          Dijadikan tempat pacaran bagi anak muda



BAB IV
Penutup
A.      Kesimpulan
Museum Perundingan Naskah Proklamasi merupakan tempat terjadinya peristiwa sejarah awal berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia. Sehingga apabila di kaji secara mendalam, akan terihat hubungannya, dengan museum sejarah yang berkaitan dengan pergerakan Nasional.
Mengingat peranan dan Fungsi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, maka perlu di lestarikan untuk mengenang dan menghayati sejarah perjuangan bangsa.
B.      Saran
1.      Petunjuk jalan harus ada
2.      Pasilitas harus ditambah agar banyak peminatnya
3.      Pemandu harus di sesuaikan dengan golongan usia
4.      Kebersihan dan keamanan perlu di tingkatkan

















DAFTAR PUSTAKA.

Buku panduan sejarah Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Kementrian Pendidikan dan kebudayaan 2014

Museum Perumusan Naskah Proklamasi Jl. Imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat

0 komentar:

Posting Komentar