Selasa, 12 April 2016

Kerajaan Mataram Kuno

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Kerajaan Mataram kuno adalah kerajaan zaman hindu yang banyak meninggalkan sejarah melalui prasasti yang ditemukan. Sejak abad 10 kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur dimulai dari pemerintahan Mpu Sindok yang kemudian di gantikan oleh Sri Lokapala. Selanjutnya adalah Makuthawangsa Wardhana, terakhir adalah Dharmawangsa Teguh sebagai penutup Kerajaan Mataram Kuno atau medang.
Secara umun kerajaan Mataram Kuno pernah di pimpin oleh 3 dinasti yang pernah berkuasa pada waktu itu, yaitu Wangsa Sanjaya, Wangsa Sailendra, dan Wangsa Isyana. Wangsa Isyana merupakan dinasti yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno setelah berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
Pendiri dari dinasti Isyana adalah Mpu Sindok, baru membangun kerajaannya di Tamwlang tahun 929. Kerajaan yang didirikan Mpu Sindok merupakan lanjutan dari kerajaan mataram.Dengan demikian Mpu Sindok dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isana. Perpindahan kerajaan ke Jawa Timur tidak disertai dengan penaklukan karena sejak masa Dyah Balitung, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno telah meluas hingga ke Jawa Timur.


1.2 Rumusan Masalah

1.Bagaimana asal-usul terbentuknya Wangsa Sailendra & Wangsa Isyana? Dan bagaimana masa Dharmawangsa Teguh?
2.Bagaimana kehidupan masyarakat kerajaan Mataram Kuno setelah berpindah ke Jawa Timur?
3.Apa penyebab runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Asal Usul Wangsa Sailendra
      Istilah Sailendrawangsa dijumpai pertama kali di dalam prasasti Kalasan tahun 700 Saka(778 M).1  Kemudian istiliah itu muncul pula didalam prasasti dari Desa Kelurak tahun 704 Saka (782 M),2  di dalam prasasti  Abhayagiriwihara dari bukit Ratu Baka tahun 714 Saka (792 M),3  dan didalam prasasti Kayumwungan tahun 746 Saka (824 M).yang amat menarik perhatian nya ialah bawa istilah Sailendrawangsa itu muncul pula di luar jawa, yaitu di dalam prasasti Ligor B5, Nalanda, dan Leiden.
     Prasasti-prasasti tersebut semuanya menggunakan bahasa sansekerta, dan tiga diantaranya- kecuali prasati Kayumwungan- menggunakan huruf siddam,bukan huruf Pallawa atau huruf jawa kuno sebagaimana umumnya prasasti-prasasti di Jawa. Kenyataan ini di tambah dengan kenyataan bahwa ada beberapa nama wangsa di India dan daratan Asia Tenggara yang sama artinya dengan Sailendra, yaitu raja gunung, menimbulkan pelbagai teori tentang asal usul wangsa Sailendra di Jawa itu. R.C. Majumdar


2.2  Asal-usul Wangsa Isyana

Istilah Isyana berasal dari nama Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa, yaitu gelar Mpu Sindok setelah menjadi raja Medang (929–947). Dinasti ini menganut agama Hindu aliran  Siwa. Berdasarkan agama yang dianut, Mpu Sindok diduga merupakan keturunan Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang periode Jawa Tengah. Salah satu pendapat menyebutkan bahwa Mpu Sindok adalah cucu Mpu Daksa yang memerintah sekitar tahun 910–an. Mpu Daksa sendiri memperkenalkan pemakaian Sanjayawarsa (kalender Sanjaya) untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah keturunan asli Sanjaya. Dengan demikian, Mpu Daksa dan Mpu Sindok dapat disebut sebagai anggota Wangsa Sanjaya.
Kerajaan Medang di Jawa Tengah hancur akibat letusan Gunung Merapi menurut teori van Bammelen. Mpu Sindok kemudian memindahkan ibu kota Medang dari Mataram menuju Tamwlang. Beberapa tahun kemudian ibu kota dipindahkan lagi ke Watugaluh. Kedua istana baru itu terletak di daerah Jombang sekarang. Mpu Sindok tidak hanya memindahkan istana Medang ke timur, namun ia juga dianggap telah mendirikan dinasti baru bernama Wangsa Isyana.Kerajaan yang baru tetap bernama Mataram, sebagai mana ternyata dari prasasti Paradah tahun 865 Saka (943M) dan prasasti Anjukladang tahun 859 Saka (937M). Kedudukan Mpu Sindok dalam kelurga raja-raja yang memerintah di Mataram itu memang di permasalahkan. Seperti yang telah dikemukakan, Mpu sindok pernah memangku jabatan Rakai Halu dan Rakryan Mahapatih  i Hino, yang menunjukkan bahwa ia pewaris takhta kerajaan yang sah, siapapun ayahnya. Jadi ia tidak perlu kawin dengan putri mahkota untuk dapat menjadi raja.
Mpu Sindok memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan 948 M. Dari masa pemerintahannya didapatkan sekitar 20 prasasti yang sebagian besar ditulis di atas batu. Sebagian prasasti Pu Sindok  berkenaan dengan penetapan sima bagi suatu bangunan suci, kebanyakan atas permintaan pejabat atau rakyat suatu desa. Yang ditetapkan menjadi sima atas perintah raja sendiri hanyalah Desa Linggasutan dan sawah kakatikan di Anjukladang.  Dapat dilihat bahwa memang
Tidak ada peristiwa di bidang politik yang terdapat dalam prasasti Pu Sindok. Kalaupun ada, hanya samar-samar saja dan terdapat dalam prasasti tembaga yang tinulad. Rupa-rupanya perpindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur tidak perlu disertai dengan penaklukan-penaklukan. Hal ini dapat dipahami karena sejak Rakai Watukara dyah Balitung kekuasaan kerajaan Mataram telah meluas sampai ke Jawa Timur. Bahwa mungkin ada juga sana-sini raja bawahan atau penguasa setempat yang tidak mau tunduk, dan perlu dikuasai dengan kekutan senjata, bukanlah hal yang mustahil. Adanya prasasti Waharu dan prasasti Sumbat memang membayangkan adanya kemungkinan tersebut. Bahwa pusat kerajaan Pu Sindok juga mengalami perpindahan mungkin juga berhubungan dengan adanya serangan musuh. Seperti telah disebutkan, ibu kota kerajaan yang pertama terletak di Tamwlang. Akan tetapi, di dalam prasasti Paradah dan Prasasti Anjukladang ibu kota kerajaan disebutkan ada di Watugaluh.
Dari sekian banyak bangunan  suci yang disebutkan di dalam prasasti-prasasti Pu Sindok, belum ada satu pun yang dapat dilokalisasikan dengan tepat. Prasasti Anjukladang menyebutkan adanya Candi Lor dan sekarang didekat Berbek, Kabupaten nganjuk ada reruntuhan candi. Sebenarnya diharapkan adanya suatu peninggalan arkeologi yang dapan diidentifikasikan dengan candi kerajaan, sebagai pengganti percandian Loro Jonggrang, sebagai lambang Mahameru untuk pusat kerajaan yang baru di Jawa Timur. Akan tetapi hingga kini belum ada peninggalan candi di Jawa Timur yang dapat dianggap sebagai candi peninggalan kerajaan.
Silsilah Wangsa Isyana dijumpai dalam prasasti Pucangan tahun 1041 atas nama Airlangga, seorang raja yang mengaku keturunan Mpu Sindok. Prasasti inilah yang melahirkan pendapat tentang munculnya sebuah dinasti baru sebagai kelanjutan Wangsa Sanjaya.Cikal bakal Wangsa Isyana tentu saja ditempati oleh Mpu Sindok alias Maharaja Isyana. Ia memiliki putri bernama Sri Isyanatunggawijaya yang menikah dengan pangeran Bali bernama Sri Lokapala. Dari perkawinan itu lahir Makutawangsawardhana, yang kemudian memiliki putri bernama Mahendradatta, yaitu ibu dari Airlangga.Ayah dari Airlangga adalah Udayana Warmadewa raja Bali. Dalam beberapa prasasti, nama Mahendradatta atau Gunapriya Dharmapatni disebut lebih dulu sebelum suaminya. Hal ini menunjukkan seolah-olah kedudukan Mahendradatta lebih tinggi daripada Udayana. Mungkin saat itu Bali merupakan negeri bawahan Jawa. Penaklukan Bali diperkirakan terjadi pada zaman pemerintahan Dyah Balitung (sekitar tahun 890-900-an)
Prasasti Pucangan juga menyebutkan seorang raja bernama Dharmawangsa Teguh, mertua sekaligus kerabat Airlangga. Para sejarawan cenderung sepakat bahwa Dharmawangsa adalah putra Makutawangsawardhana. Pendapat ini diperkuat oleh prasasti Sirah Keting yang menyebut Dharmawangsa dengan nama Sri Maharaja Isyana Dharmawangsa.Dengan demikian, Dharmawangsa dapat dipastikan sebagai keturunan Mpu Sindok, meskipun prasasti Pucangan tidak menyebutnya dengan pasti.
Dari sumber kitab Warata Pura, kitab ini merupakan salinan kedalam bahasa jawa kuno dari kitab senama dalam bahasa sansekerta. Angka tahun dituliskannya tahun kitab itu yaitu 918 saka ( 916 M ) dan di kitab juga disebutkan nama raja  yang memerintah saat itu yakni Sri Darmawangsa Teguh Anantawikrama. Selain ditemukannya kitab juga ditemukan sebuah prasasti, yakni adalah prasasti Jayawarsa Dikwijaya Sastra Prabudalam kitab itu  disebutkan bahwa raja Sri Jayawarsa Digwijaya Sastra Prabu menyebutkan bahwa dirinya anak cucu sang Apanji Wijayamertawerdana, yang kemudian bergelar Abiseka sebagai Raja Sri Istana Darmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa. Dan yang terakhir sebuah candi Dharma Parhyangan di Wetan, candi ini merupakan candi untuk mengenang kematian Darmawangsa Teguh.
Setelah pemerintahan Pu Sindok ada masa gelap sampai masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga. Dalam masa 70 tahun itu tercatat hanya tiga prasasti yang berangka tahun yang ditentukan, yaitu prasasti Hara-Hara tahun 888 Saka (966 M) prasasti Kawambang Kulwan tahun 913 Saka (992 M) dan prasasti ucem tahun 934 Saka (1012-1013 M). prasasti hara-hara berisi keterangan tentang pemberian tanah sima oleh Pu Mano, yang telah diwarisinya dari nenek moyangnya, yang terletak di Desa Hara-hara, di sebelah selatan perumahannya, kepada Mpungku di Susuk Pager dan Mpungku sebagai tempat menirikan bangunan suci (kuti). Sebagai sumber pembiayaan pemeliharaan dan biaya upacara di dalam bangunan suci tersebut, ditebuslah sawah yang terletak di sebelah selatan seluas 3 tampah yang telah digadai oleh pungku Susuk Pager dan Mpungku di Nairanja.
Prasasti Kawambang Kulwan boleh dikatan belum diterbitkan sebagaimana mestinya.Apa yang terdapat dalam transkipi Brandes sebagian kecil permulaannya saja, itu pun hanya dibaca satu sisi, sedang prasasti ini ditulis melingkar. Yang dapat ditangkap ialah bahwa prasasti ini memuat anugerah raja kepada Samgat Kanuruhan pu Burung bahwwa prasasti sima di Desa Kawambang Kulwan, agar Sang Pamgat Kanuruhan mendirikan suatu bangunan suci pemujaan dewa (an padamla parhyangan). Melihat angka tahunnya, prsasti ini berasa dari masa pemerintahan Dharmangsa Teguh. Sayang nama rajanya belum terbaca; yang ada ialah nama pejabat tinggi yang menerima hadiah, yaitu Pu Dharmmangsanggaramawikranta.
Suatu peristiwa unik yang diperingati dengan prasasti yang dipahat pada batu alam yang besar ialah perbaikan jalan oleh Samgat Lucem pu Ghek (atau Lok), dan penanaman pohon beringin oleh Sang Apanji Tepet. Rupa-rupanya pohon itu ditanam di tempat permulaan atau akhir jalan yang diperbaiki itu.Peristiwa ini diperingati dengan prasasti ucem yang ditulis dengan huruf kuadrat yang besar-besar.Raja Sri Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa, yang berdasarkan kitab Wirataparwa, memerintah dalam dasawarsa terakhir abad X M, dan mungkin sampai tahun 1017 M. Melihat gelarnya yang mengandung unsur Isana ia jelas keturunan Pu Sindok secara langsung. Kemungkinan besar ia anak Makutawangsa-warddhana, jadi saudara Mahendradatta Gunapriya-dharmmapatni. Ia menggantikan ayahnya duduk diatas takhta kerjaan Mataram, sedang Mahendradatta kawin dengan Udayana, yang ternyata seorang raja dari Wangsa Warmmadewa di Bali. Dapat dipahami sepenuhnya mengapa Airlangga menyebut dirinya masih anggota keluarga dari raja Dharmawangsa Teguh
Dharmawangsa Teguh memerintah dalam dasawarsa terakhir abad 10 M dan mungkin sampai 1017 M. Dharmawangsa Teguh memiliki gelar Sri Isana Dharmawangsa  Teguh Anantawikramottunggadewa (menurut prasati raja Jayawarsa Digwijaya Sastraprabu dan kitab Wirataparwa). Melihat gelar yang disandang mengandung unsur Isana, jelas bahwa Dharmawangsa Teguh keturunan dari Empu Sendok secara langsung (Prasati Pacangan). Kemungkinan besar Dharmawangsa Teguh anak dari Makutawangsawardana, dia juga merupakan saudara dari Mahendradatta Gunapriya Darmapatni. Dharmawangsa Teguh menggantikan ayahnya dengan duduk di atas tahta Kerajaan Mataram, sedangkan Mahendradatta kawin dengan Udayana yang ternyata seorang putri raja dari wangsa Warmmadewa di Bali. Jadi pada waktu itu Bali sudah ada di bawah pengaruh jawa, itu terbukti dengan ditemukannya prasasti-prasasti di Bali yang menggunakan bahasa Jawa kuno.
Hubungan Jawa dan Sriwijaya (Sumatra) pada saat itu kurang baik. Menurut LC Damais pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh Jawa pernah menyerbu Sriwijaya untuk menghancurkan hubungan Sriwijaya dan Cina, tetapi serangan dari Dharmawangsa Teguh tidak berpengaruh pada kedaulatan Sriwijaya, karena sejak tahun 1003 M datang lagi utusan Sriwijaya ke Cina dan sebaliknya untuk saling memberikan upeti. Hubungan itu berlanjut sampai 1178 M. Pemerintahan Dharmawangsa Teguh juga melakukan ekspedisi ke Sumatra. Ini terbukti adanya prasasti batu yaitu bernama Prasasti Hujung Langit ( Bawang ) di daerah Sumatra Selatan tahun 919 Saka ( 997 M ) yang berbahasa Jawa kuno.
Dharmawangsa Teguh meletakkan pusat kerajaannya untuk yang pertama kali adalah di Madiun, kemudian Dharmawangsa Teguh memindahkan pusat kerajaannya di daerah Jombang. Setelah itu pindah lagi di daerah Maospati. Perpindahan pusat kerajaan pada masa Dharmawangsa Teguh tidak jelas sumber dan penjelasannya. Dharmawangsa Teguh yang begitu berambisi untuk meluaskan kekuasaanya sampai keluar pulau Jawa ternyata mengalami keruntuhan ditangan raja bawahannya yaitu raja Wurawari (daerah Banjumas). Raja Wurawari sangat dendam dengan Dharmawangsa Teguh karena ambisinya untuk mendampingi putri Dharmawangsa Teguh tidak tercapai, karena Dharmawangsa Teguh menikahkan putrinya dengan Airlangga. Akhirnya kerajaan yang dipimpin Dharmawangsa Teguh hancur menjadi abu karena mendapat serangan yang tidak terduga dari raja Wurawari dan seluruh daerah yang pernah ditaklukan oleh Airlangga jatuh ketangan raja Wurawari. Dengan hancurnya pemerinthan Dharmawangsa teguh raja Wurawari cukup puas melampiaskan sakit hatinya karena tidak berhasil menjadi menantu Dharmawangsa Teguh.
Seperti yang dapat dilihat dari prasasti Pucangan Dharmawangsa dicandikan di Wwatan, sekarang masih ada di desa Wotan di daerah kecamatan Maospati. Dharmawangsa dalam masa pemerintahaannya menitik beratkan pada pola politik luar negrinya. Ketika Sriwijaya diserang oleh Dharmawangsa sekitar tahun 992 yang hasilnya Sriwijaya kalah, akibatnya Sriwijaya mengadakan pembalasan atas serangan itu terhadap Dharmawangsa pada tahun 1006 M dibantu oleh raja Wurawari, sehingga mengakibatkan kehancuran kerjaan Dharmawangsa atau Pralaya. 

2.3 Kehidupan Masyarakat

Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Mataram Kuno

Kehidupan politik kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha membawaperubahan baru dalam kehidupansosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Struktur sosial dari masa Kutai hingga Majapahit mengalami perkembangan yang berevolusi namun progresif. Dunia perekonomian pun mengalami perkembangan dari yang semula sistem barter hingga sistem nilai itu karuang. Sumber−sumber berita Cina mengungkapkan keadaan  masyarakat Mataram dari abad ke−7 sampai ke−10. Kegiatan  perdagangan baik di dalam maupun luar negeri berlangsung ramai. Hal ini terbukti dari ditemukannya barang-barang keramik dari Vietnam  dan Cina. Kenyataan ini dikuatkan lagi dengan berita dari Dinasi Tang yang menceritakan kebesaran sebuah kerajaan dari Jawa.
Dari Prasasti Warudu Kidul diperolehin formasi adanya sekumpulan orang asing yang berdiam di Mataram. Mereka mempunyai status yang berbeda dengan penduduk pribumi. Mereka membayar pajak yang berbeda yang tentunya lebih mahal daripada rakyat pribumi Mataram. Kemungkinan besar mereka itu adalah parasaudagar dariluar negeri. Namun, sumber−sumber local tidak memperinci lebih lanjut tentang orang−orang asingini. Kemungkinan besar mereka adalah kaum migran dari Cina.Dari berita Cina diketahui bahwa di ibu kota kerajaan terdapat istana raja yang dikelilingi dinding dari batu bata dan batang kayu. Di dalam istana,  berdiam raja beserta keluarganya dan para abdi. Di luaristana (masih di dalam lingkungan dinding kota) terdapat kediaman param pejabat tinggi kerajaan termasuk  putra mahkota beserta keluarganya. Mereka tinggal dalam perkampungan khusus di manapara hamba dan budak yang dipekerjakan di istana juga  tinggl sekitarnya. Sisa-sisa peninggalan pemukiman khusus ini sampai sekarang masih bisa kita temukan di Yogyakarta dan Surakarta. Di luar tembok kota berdiam rakyat yang merupakan kelompok terbesar.
Kehidupan masyarakat Mataram umumnya bersifat agraris karena pusat  Mataram terletak di pedalaman, bukan di pesisir pantai. Pertanian merupakan sumber kehidupan kebanyakan rakyat Mataram. Di sampingitu, penduduk di desa (disebutwanua) memelihara ternak seperti kambing, kerbau, sapi, ayam, babi, danitik.Sebagai tenagakerja, mereka juga berdagang  danmenjadi pengrajin.
Dari Prasasti Purworejo (900 M) diperoleh informasi tentang kegiatan perdagangan. Kegiatan di pasar ini tidak diaadakan setiap hari melainkan bergilir, berdasarkan pada hari pasaran menurutka lender Jawa Kuno. Pada hari Kliwon, pasardiadakan di pusatkota. Pada har I Mani satau legi, pasar diadakan di desabagian timur. Pada hari Paking (Pahing), pasar diadakan di desa sebelah selatan.Pada hari Pon, pasar diadakan di desa sebelah barat. Padahari Wage, pasar diadakan di desa sebelah utara.
Pada hari pasaran ini, desa−desa yang menjadi pusat perdagangan, ramai didatangi pembeli dan penjual dari desa−desa lain. Mereka datang dengan berbagai cara, melalui transportasi darat maupun sungai sambil membawa barang dagangannya seperti beras, buah−buahan, dan ternak untuk dibarterdengan kebutuhan yang lain. Selain pertanian, industri rumah tangga juga sudah berkembang. Beberapa hasil industry ini antara lain anyaman seperti keranjang, perkakas dari besi, emas, tembaga, perunggu, pakaian, gula, kelapa, arang, dan kapur sirih. Hasil produksi industri ini dapat diperoleh di pasar−pasar tadi. Sementara itu, bila seseorang berjasa (biasanya pejabat militer atau kerabat istana) kepada Kerajaan, maka orang bersangkutan akan diberi hak memiliki tanah untuk dikelola. Biasanya tempat itu adalah hutan yang kemudian dibukamenjadi pemukiman baru. Orang yang diberi tanah baru itu diangkat menjadi penguasa tempat yang baru dihadiahkan kepadanya. Ia bisa saja menjadi akuwu (kepaladesa), senopati, atau adipati atau menteri. Bisa pula sebuah wilayah dihadiahkan kepada kaum brahmana atau rahibuntuk di jadikan asrama sebagai tempat tinggal mereka, dan di sekitar asrama tersebut biasanya didirikan candi atau wihara.

Aspek Kehidupan Ekonomi

Rakyat Mataram menggantungkan kehidupannya pada hasil pertanian. Hal ini mengakibatkan banyak kerajaan-kerajaan serta daerah lain yang saling mengekspor dan mengimpor hasil pertaniannya.Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan hasil pertanian telah dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Yang diperdagagkan pertama-tama hasil bumi, seperti beras, buah-buahan, sirih pinang, dan buah mengkudu. Juga hasil industry rumah tangga, seperti alat perkakas dari besi dan tembaga, pakaian,payung,keranjang, dan barang-barang anyaman, gula, arang, dan kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing, itik, dan ayam serta telurnya juga di perjualbelikan.Usaha perdagangan juga mulai mendapat perhatian ketika Raja Balitung berkuasa.Raja telah memerintahkan untuk membuat pusat-pusat perdagangan serta penduduk disekitar kanan-kiri aliran Sungai Bengawan Solo diperintahkan untuk menjamin kelancaran arus lalu lintas perdagangan melalui aliran sungai tersebut.Sebagai imbalannya, penduduk desa di kanan-kiri sungai tersebut dibebaskan dari pungutan pajak. Lancarnya pengangkutan perdagangan melalui sungai tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.


Struktur Birokrasi

Dalam struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan kuno raja (Sri Maharaja) ialah penguasa tertinggi. Dari gelar abhiseka dan puji-pujian kepada raja di dalam berbagai prasasti dan kitab-kitab susastra Jawa Kuno sejak raja Airlangga. Dari jaman Mataram Kuno hanya ada dua orang raja yang bergelar abhiseka dengan unsure tunggadewa, yaitu Bhujayottunggadewa dan Rakai Layang dyah Tulodong Sri Saijanasanmatanuragatungadewa.Di naskah Ramayana Kakawin  yang di dalam bagian yang berisikan uraian tentang rajadharmma (tugas kewajiban seorang raja), yaitu bagian yang merupakan ajaran Rama kepada adiknya Bharata dan Wibhisana, dijumpai antara lain ajaran astrabrata, yaitu perilaku yang delapan. Dikatakan bahwa di dalam diri seorang raja berpadu 8 dewa-dewa, yaitu Indra, Yama, Suryya, Soma, Wayu, Kuwera, Waruna, dan Agni.
Secara singkat bahwa seorang raja harus berpegang teguh pada dharma, bersikap adil, menghukum yang bersalah dan memberikan anugerah kepada mereka yang berjasa (wnang wigraha anugerah), bijaksana, tidak boleh sewenang-wenang, waspada terhadap gejolak-gejolak dikalangan rakyatnya, berusaha agar rakyatnya senantiasa memperoleh rasa tenteram dan bahagia, dan dapat memperlihatkan wibawanya dengan kekuatan angkatan perang dan harta kekayaannya.Sejak raja Airlangga sampai munculnya Wangsa Rajasa raja-raja menggunakan gelar abhiseka yang berarti penjelmaan Wisnu, hal itu berlandaskan konsepsi kosmologis. Konsepsi ini dipergunaka oleh nenek moyang kita untuk membenarkan fakta sejarah tentang tergulingkannya seorang maharaja oleh raja bawahannya.
Contoh tentang digulingkannya seorang maharaja oleh seorang penguasa daerah atau oleh maharaja dari mandala yang lain, ialah perang saudara, atau perang perebutan kekuasaan di antara para pangeran, yang disebabkan karena raja di jaman dulu, disamping parameswari banyak yang dapat memberikan anak laki-laki kepada raja. Perang saudara dan perebutan kekuasaan di antara para pangeran itu terjadi pada masa sesudah Rakai Kayuwangi pu Lokapala sampai ke masa pemerintahan Pu Sindok, dan pada masa sesudah raja Airlangga.Sebenarnya telah ada ketentuan mengenai hal waris atas takhta kerajaan, yaitu bahwa ya ng pertama-tama berhak untuk menggantikan duduk di atas takhta kerajaan ialah anak-anak raja yang lahir dari parameswari.
Di dalam prasasti-prasasti dari jaman pemerintahan Rakai Kayuwangi dan Rakai Watukura dijumpai seorang pejabat yang kedudukannya setingkat dengan para putra raja itu, yaitu pamgat tiruan. Gelar pamgat menunjukkan bahwa ia seorang pejabat keagamaan. Dari prasasti-prasasti dari masa rajakula Rajasa pamgat tiruan  ialah seorang upapatti atau pejabat kehakiman.Ada satu pejabat yang hingga sekarang hanya dijumpai di dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Jawa Timur, yaitu rakryan kanuruhan. Gelar kanuruhan ditemukan juga di antara tulisan-tulisan singkat pada salah satu candi perwara Candi Loro Jonggrang di Prambanan pada deretan yang sebelah timur.Rakryan kanuruhan mulai tampak sebagai pejabat dalam hirarki pemerintahan pusat sejak jaman empu sindok. Pada masa pemerintahan raja Dharmmawangsa Airlangga ia merupakan pejabat yang terpenting sesudah para putra raja keadaan ini terus berlangsung sepanjang jaman Kadiri. Dalam jaman ini ia disebut sebagai yang terutama di antara pada tanda rakryan ring pakirakiran.
Itulah gambaran yang diperoleh dari sumber prasasti tentang birokrasi ditingkat pusat kerajaan. Raja didampingi oleh para pangeran, di antaranya putra mahkota, dan seorang pejabat kehakiman. Mereka itu ialah rakarayan mapati I hino, I halu, I sirikan, I wka, dan pamgat tiruan. Berita cina yang menyangkut masalah birokrasi di kerajaan Mataram tidak juga banyak menolong dalam mengungkapkan selengkapnya masalah ini. Berita dari jaman rajakula T’ang (Hsin-T’ang-shu) mengatakan bahwa ada 32 pejabat tinggi, dan yang pertama di antara mereka ialah ta-tso-kan-hiung. Berita dari jaman rajakula Sung mengatakan : tiga orang putra raja bertindak sebagai raja muda, dan ada pejabat yang bergelar samgat dan empat rakryan, yang bersama-sama menyelenggarakan Negara sebagaimana para menteri di Cina, mereka itu tidak memperoleh gaji tetap, tetapi pada waktu-waktu tertentu memperoleh hasil bumi dan barang-barang lain semacamnya.
Berita yang pertama pernah ditafsirkan sebagai berita yang khusus berkenaan dengan masa pemerintahan Rakai Watukara Dyah Balitung, sebab ta-tso-kan-hiung ditafsirkan sebagai Daksa, saudara raja yang gagah berani.Berita yang kedua lebih terperinci, dan dalam beberapa hal memang sesuai dengan data epigrafis. Di atas sudah dilihat adanya tiga, bahkan sebenarnya empat orang putra raja yang duduk dalam hirarki pemerintahan. Tetapi bahwa selanjutnya ada samgat dan empat rakryan tidaklah sesuai, karena kenyataannya ada empat samgat dan lima orang rakryan.
Dengan perkataan lain kebanyakan di antara para manilala drawiya haji itu ialah abdi dalem keraton, yang menikmati kekayaan raja dalam arti menerima gaji tetap dari perbendaharaan kerajaan. Para pejabat tinggi kerajaan dan para pangeran yang menduduki jabatan di dalam hirarki pemerintahan tingkat pusat, baik yang bergelar rakai maupun pamgat, lebih banyak tingkat di lingkungan ibukota kerajaan. Sayang sekali prasasti-prasasti tidak memberikan data yang lengkap tentang struktur birokrasi ditingkat watak itu. Lebih terperinci ialah keterangan mengenai pejabat-pejabat di bawah para penguasa daerah. Seorang Rakai Patapan misalnya, disebut mempunyai bawahan tuhan ning nayaka, parujar atau parwuwus, matanda, tuhan ning kalula, tuhan ning lampuran, tuhan ning mangrakat atau manapal, dan tuhan ning wadia rarai.




Administrasi Pengadilan

Sumber penghasilan kerajaan dan pemerintahan daerah yang lain ialah denda-denda yang dikenakan atas segala macam tindak pidana. Di dalam prasasti-prasasti disebut sukha dukha, yang di dalam naskah-naskah hukum disebut hala hayu, denda-denda itu di dalam prasasti juga disebut drawya haji. Hal ini tidak perlu mengherankan karena dapat dibayangkan bahwa naskah-naskah hukum menjadi pegangan para hakim itu tentu tidak ditulis di atas logam, karena akan menjadi berat dan mahal.Beberapa naskah hukum jawa kuno yang sampai kepada kita diketahui merupakan olahan dari naskah-naskah hukum di India. Antara lain kitab Purwadhigama, Kuramanawa atau Siwasasana dan Swarajambhu. Menurut penelitian van Naerssen memang ada petunjuk bahwa naskah-naskah hukum jawa kuno itu diulis kembali pada waktu kemudian.
Karena dari jaman Mataram tidak ada naskah hukum yang sampai kepada kita, maka gambaran tentang administrasi kehakiman hanya dapat disuguhkan di sini berdasarkan beberapa prasasti yang merupakan keputusan peradilan (Jaya Patra), dan keterangan tentang sukha dukha yang terdapat dalam prasasti-prasasti yang lain.Perkara yang dipermasalahkan di dalam prasasti Guntur dan Wurudu Kidul dapat diselesaikan ditingkat watak oleh seorang pamgat. Sudah kita lihat bahwa yang diperkarakan di dalam prasasti Guntur ialah masalah hutang piutang. Di dalam surat keputusan itu disebutkan sebagai sebab yang pertama mengapa Sang Dharmma dikalahkan perkaranya ialah karena ia tidak hadir di persidangan. Alasan yang serupa juga digunakan terhadap Sang Pamariwa yang digugat oleh Sang Danadi.
Sebagai alasan yang kedua mengapa Sang Dharmma dikalahkan perkaranya ialah karena menurut kitab hukum hutang istri yang dibuat tanpa pengetahuan suaminya, apalagi kalau mereka itu tidak mempunyai anak, tidak menjadi tanggung jawab si suami. Pasal yang mengatakan demikian tidak terdapat di dalam naskah hukum yang diterbitkan oleh Jonker, juga tidak ada di dalam bab VIII dari Manawadharmmasastra. Hal yang diajukan di dalam prasasti Wurudu Kidul tidak terdapat di dalam naskah hukum yang kita kenal. Mungkin tidak ada naskah hukum yang mengatur masalah status kewarganegaraan seseorang. Maka dalam hal ini keputusan diambil berdasarkan kesaksian kaum keluarga Sang Dhanadi dan penduduk asli yang netral dari beberapa desa di luar desa tempat tinggal Sang Dhanadi.
Di dalam naskah-naskah hukum memang ada juga dicantumkan syarat-syarat seorang saksi, antara lain harus orang yang telah berkeluarga, yang banyak anaknya, penduduk asli, dan orang-orang yang tidak berkepentingan di dalam perkaranya, baik dari kasta ksatrya, waisya, maupun sudra. Seorang brahmana tidak dapat dijadikan saksi, demikian pula raja sendiri, para tukang dan pandai, dan para pendeta yang telah meninggalkan keduniaan.Bahwa pihak yang tidak hadir dalam persidangan harus dinyatakan kalah perkaranya memang ditentukan di dalam naskah hukum. Dalam kasus Sang Dharmma melawan Pu Tabwel sebenarnya ada ketentuan bahwa Sang Dharmma dapat dikenai denda, karena menagih hutang tetapi tidak mau datang di pengadilan untuk menjelaskan duduk perkaranya hutang piutang itu. Tetapi ternyata di dalam prasasti Guntur itu tidak ada disebutkan hukuman bagi Sang Dharmma.


Keadaan Masyarakat

Di samping stratifikasi sosial berdasarkan pembagian kasta seperti yang ternyata dari berbagai prasasti, ada lagi stratifikasi sosial berdasarkan kedudukan seseorang di dalam masyarakat, baik kedudukan di dalam struktur birokrasi maupun kedudukan sosial berdasarkan kekayaan materil. Dalam kenyataan stratifikasi sosial masyarakat jawa kuno bersifat kompleks dan tumpang tindih. Sebagai contoh dapat disebutkan bahwa dari seorang kasta brahmana, kasta yang tertinggi, dapat menduduki jabatan dalam struktur birokrasi tingkat pusat atau tingkat watak, dapat juga ditingkat desa (Wanua), tetapi dapat juga tidak mempunyai sesuatu jabatan. Ada juga orang dari kasta ksatrya yang dapat menduduki jabatan keagamaan ditingkat pusat, seperti Sang pamgat tiruan misalnya, dan dapat juga menjadi pertapa dan tinggal di suatu biara. Di ibukota kerajaan, yang menurut berita-berita Cina dikelilingi oleh dinding, baik dari batu bata maupun dari batang-batang kayu, terdapat istana raja yang juga dikelilingi oleh dinding. Di luar istana, masih di dalam lingkungan dinding kota, terdapat kediaman putra mahkota (Rake hino), dan tiga orang adiknya, dan kediaman para pejabat tinggi kerajaan. Rumah-rumah mereka itu terletak di dalam kampung khusus di dalam lingkungan tembok kota, di mana tinggal para hamba mereka masing-masing.
Di dalam lingkungan tembok kota itu juga tinggal para pejabat sipil yang lebih rendah, yaitu para manilala drawyah haji yang jumlahnya mungkin sampai kira-kira tiga ratus orang, bersama-sama dengan keluarga mereka. Jadi di dalam lingkungan tembok ibukota kerajaan tinggal kelompok elit dan non elit, dengan raja dan keluarganya mengambil tempat tersendiri. Menurut berita-berita Cina raja tiap hari mengadakan pertemuan dengan putra mahkota, para pangeran, para pejabat tinggi kerajaan dan pendeta penasehat raja. Biasanya raja mengambil keputusan setelah mendengarkan pendapat dari para pejabat yang hadir sebagai contoh dapat dikemukakan di sini prasasti Sarwadharma tahun 1191 saka (31 oktober 1269 M). Di dalam prasasti ini diperingati permohonan rakyat dari desa-desa yang menjadi punpunan Sang Hyang Sarwwadharma di wilayah Janggala dan Pangjalu agar mereka itu dibebaskan dari ikatan thanibala, sehingga tidak perlu lagi membayar bermacam-macam pungutan.
Dalam kehidupan sehari-hari rakyat tidak terlepas dari kebutuhan akan hiburan. Prasasti-prasasti dan relief candi-candi, teritama Candi Borobudur dan Prambanan, banyak member data tentang bermacam-macam seni pertunjukan. Tentang pertunjukan wayang di dalam prasasti Wukajana dari masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung.Pada pertunjukan wayang kulit dan petilan wayang orang serta pembacaan ceritera Ramayana ada lagi pertunjukan lawak mamirus dan mabanol. Pertunjukan lawak hampir dijumpai di semua prasasti yang menyebut upacara penetapan sima secara terperinci.Tarian-tarian juga sering dipertunjukan pada upacara penetapan sima. Ada tari-tarian yang dapat ditarikan bersama oleh laki-laki dan perempuan, orang-orang tua dan pemuda-pemudi, dan ada juga tarian khusus seperti tuwung, bungkuk, ganding, dan rawanahasta. Ada juga tari topeng (matapukan). Tarian itu biasanya diiringi dengan gamelan. Ternyata prasati dan relief candi menampilkan jenis alat gamelan yang terbatas, anatra lain semacam gendang (padahi) kecer atau simbal (regang), semacam gambang, saron, kenong, beberapa macam bentuk kecapi(wina), seruling dan gong.
Adanya berbagai macam tarian yang diiringi oleh gamelan yang terbatas itu dijumpai di relief Candi Prambanan dan Borobudur. Diantaranya kita dapat melihat tarian perang, seorang wanita menari sendiri, adegan yang menggambarkan semacam reog di Jawa Barat, dan lain-lain. Adegan wanita yang menari sendiri diikuti oleh beberapa orang laki-laki yangbertepuk tangan mengingatkan kita pada keterangan di dalam prasasti Poh yang menyebut rara mabhramana tinonton mwang were werehnya (gadis yang berkeliling untuk ditonton dengan orang laki-laki), mungkin semacam teledek yang ngamen berkeliling dari desa ke desa yang lain.Berbagai macam tontonan itu tentu saja ridak hanya dipertunjukkan pada waktu ada upacara penetapan sima. Ada dalang, penabuh gamelan, penari dan pelawak professional, yang memperoleh sumber penghasilan dari profesinya tersebut. Seperti telah dikatakan di atas bahwa para seniman itu masuk ke dalam kelompok wargga kilalan.



2.4 Penyebab Keruntuhan Kerajaaan Mataram Kuno

Runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, disebabkan oleh letusan gunung Merapi yang mengeluarkan lahar. Kemudian lahar tersebut menimbun candi-candi yang didirikan oleh kerajaan, sehingga candi-candi tersebut menjadi rusak.Kedua, runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh krisis politik yang terjadi tahun 927-929 M. Ketiga, runtuhnya kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan pertimbangan ekonomi. Di Jawa Tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat sungai besar dan tidak terdapatnya pelabuhan strategis.Sementara di Jawa Timur, apalagi di pantai selatan Bali merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan, dan dekat dengan daerah sumber penghasil komoditi perdagangan. Mpu Sindok mempunyai jabatan sebagai Rake I Hino ketika Wawa menjadi raja di Mataram, lalu pindah ke Jawa timur dan mendirikan dinasti Isyana di sana dan menjadikan Walunggaluh sebagai pusat kerajaan. Mpu Sindok yang membentuk dinasti baru, yaitu Isanawangsa berhasil membentuk Kerajaan Mataram sebagai kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yang berpusat di Jawa Tengah. Mpu Sindok memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan 948 M.Sumber sejarah yang berkenaan dengan Kerajaan Mataram di Jawa Timur antara lain prasasti Pucangan, prasasti Anjukladang dan Pradah, prasasti Limus, prasasti Sirahketing, prasasti Wurara, prasasti Semangaka, prasasti Silet, prasasti Turun Hyang, dan prasasti Gandhakuti yang berisi penyerahan kedudukan putra mahkota oleh Airlangga kepada sepupunya yaitu Samarawijaya putra Teguh Dharmawangsa.
















BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Secara umum  kerajaan Mataram Kuno pernah di pimpin oleh 3 dinasti yang pernah berkuasa pada waktu itu, yaitu Wangsa Sanjaya, Wangsa Sailendra, dan Wangsa Isyana.Istilah Isyana berasal dari nama Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa, yaitu gelar Mpu Sindok setelah menjadi raja Medang (929–947). Silsilah Wangsa Isyana dijumpai dalam prasasti Pucangan tahun 1041 atas nama Airlangga, seorang raja yang mengaku keturunan Mpu Sindok. Dalam masa 70 tahun itu tercatat hanya tiga prasasti yang berangka tahun yang ditentuka, yaitu prasasti Hara-Hara tahun 888 Saka (966 M) prasasti Kawambang Kulwan tahun 913 Saka (992 M) dan prasasti ucem tahun 934 Saka (1012-1013 M). Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan hasil pertanian telah dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Yang diperdagagkan pertama-tama hasil bumi, seperti beras, buah-buahan, sirih pinang, dan buah mengkudu. Juga hasil industry rumah tangga, seperti alat perkakas dari besi dan tembaga, pakaian,paying,keranjang, dan barang-barang anyaman, gula, arang, dan kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing, itik, dan ayam serta telurnya juga di perjualbelikan.








DAFTAR PUSTAKA

Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
           Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara

Dikutip dari : http//ssbelajar.blogspot.com/2012/05/kerajaan-mataram-kuno-dan-kehidupan.html

0 komentar:

Posting Komentar